28 Tahun Menanam Hati: Menghidupi Jejak Panggilan

28 Tahun Menanam Hati: Menghidupi Jejak Panggilan

Suatu ketika seorang guru bertanya kepada saya dengan wajah yang penuh rasa penasaran, “Apa yang membuat Miss Ana bertahan di Cita Hati selama 28 tahun?”. 

Pertanyaan itu sejenak membuatku termenung sambil melihat raut wajahnya yang sabar menunggu jawaban. “Kalau bukan Tuhan yang menempatkan saya di sini, mana mungkin saya bisa bertahan,” kataku dengan lembut. 

28 tahun memang bukan waktu yang singkat untuk dilalui. Selama itu pula, telah begitu banyak kisah yang terajut. Ada gelak tawa, lelah dan peluh, momen masa-masa indah, dan masa sulit. Meski begitu, ada satu hal yang terus saya yakini: Tuhan tidak pernah salah menempatkan seseorang.

Field Trip kelas 3 SD (2010)

Dulu, saya mengira bahwa tugas guru hanya mengajar di kelas. Ternyata, menjadi guru adalah tentang melayani kehidupan. Di balik setiap keunikan mereka, ada cerita luar biasa yang terus membuat saya belajar. Ada anak yang selalu butuh semangat, dorongan, dan sosok yang percaya bahwa ia mampu. Dari situ, saya belajar bahwa anak-anak ini mungkin akan melupakan rumus atau tugas yang pernah ia kerjakan, tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana gurunya membuat mereka merasa dihargai. Itulah yang membuat saya mencintai profesi ini: mengajar bukan hanya dengan ilmu di kepala, tetapi juga dengan hati.

Bermain sambil belajar (2010)

Selama 28 tahun  itu, saya telah bertemu ribuan anak. Uniknya, anak-anak yang dulu murid saya, kini sudah dewasa, bahkan buah hatinya pun menjadi murid di Cita Hati. Saat bertemu kembali di sekolah, selalu ada saja yang membuat saya terpana dan terharu karena mereka masih mengenal dan mengingat saya. 

“Miss, saya masih ingat Miss,” sapa dari salah satu alumni dengan wajah sumringah. 

Kalimat itu selalu terdengar menghangatkan hati. Saya pun pernah lelah, kecewa, dan bertanya apakah saya sudah cukup baik. Tetapi senyum anak, pelukan kecil, dan ucapan “Thank you, Ms.” selalu mengingatkan saya kembali pada panggilan ini.

Field Trip ke Bandung (2017)

Saya tidak merasa sedang bertahan. Saya merasa sedang menjalani apa yang Tuhan percayakan. Menjadi guru adalah panggilan untuk melayani, mendampingi, dan menanamkan nilai-nilai yang berharga. Selama Tuhan masih memberi kesempatan, saya ingin terus mengajar dengan hati dan percaya bahwa setiap benih kecil yang ditanam hari ini akan bertumbuh menjadi sesuatu yang indah. 28 tahun bukan tentang berapa lama saya bertahan, tetapi tentang betapa baiknya Tuhan membawa saya sejauh ini. 

Thank You, Lord, for trusting me with this calling.